Minggu, 11 Maret 2012

Sembilan Lagu Bertema Peperangan dan Perdamaian

Sembilan Lagu Bertema Peperangan dan Perdamaian.
1.    We will Not Go Down (song for Gaza) - Michael Heart
    Inilah lagu yang paling menyentuh rasa kemanusiaan kita. We Will Not Go Down (Michael Heart) adalah sebuah lagu yang diperuntukan bagi rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza yang sangat menderita akibat invasi Israel dan sekutunya. Lagu ini bersifat universal sebagai dukungan kepada korban pelanggaran HAM dan korban perang. Dalam klipnya digambarkan bagaimana hancurnya rakyat Gaza akibat perang.
2. Wind of Change - Scorpions
    Scorpions adalah grup band berasal dari Jerman yang kerap menyoroti tema-tema sosial, politik dalam karya-karyanya. Seperti lagu Wind of Change yang dirilis tahun 1990. Lagu ini terinspirasi dari berakhirnya Perang Dingin dan merayakan berakhirnya Perestroyka. Dalam video klip lagu tersebut juga menyoroti anti perang, dimana terlihat rakyat Palestina yang terlihat sangat menderita. Scorpions juga menyoroti perusahaan minyak raksasa asal Amerika, Exxon yang menjadi pelaku dalam pencemaran laut dengan tumpahan minyaknya.
3. When the Children Cry - White Lion
    Lagu power balad yang rilis tahun 1988 ini menceritakan kesedihan dan kepedihan seorang anak yang lahir ke dunia yang semakin kejam, kejahatan merajalela dan menjadi korban perang. Dimana manusia saling membunuh. Lagu ini kerap diputar sebagai backsound berita televisi yang meliput Perang Irak tahun 2003.
4. Perdamaian – GIGI
    Di ranah dalam negeri, ada band GIGI, band papan atas indonesia, yang menyuarakan perdamaian. Lagu ini mengajak kita untuk menghindari segala bentuk perang dan mengajak kita untuk mencintai perdamaian.

5. We Want Peace - Lenny Kravitz
    Lagu “We Want Peace” milik Lenny Kravitz dirilis pada 2003 dan disaat yang sama bersamaan dengan invasi AS ke Iraq. Lagu ini sangat berarti pada saat itu, karena kita semua menentang semua bentuk invansi ke negara manapun dengan alasan apapun, terlebih lagi terhadap negara yang sudah merdeka dan berdaulat. Karena perbuatan tersebut sejatinya merupakan pelanggaran HAM.
6.  Imagine - John Lennon
    Lagu Imagine akrab ditelinga kita sebagai backsound berita mengenai peperangan, pertikaian, kerusuhan bahkan bencana alam dan lain sebagainya. Lagu Imagine dibawakan oleh John Lenon (personil The Beatles) pada tahun 1971. Lagu ini kira-kira menceritakan tentang semua orang hidup damai. Membayangkan jika di dunia ini tidak ada keserakahan dan kelaparan.
7.  Heal the World - Michael Jackson
    Dalam video klip lagu tersebut menggambarkan tentang kehidupan anak-anak yang hidup dan tinggal di negara-negara yang menderita kerusuhan. Bermain bola diantara tank-tank tempur. Sangat menyentuh dan membuat sedih. Lagu dari raja pop dunia, Michael Jackson (MJ), Heal The World juga mengajak seluruh orang untuk mencintai perdamaian dan bersatu untuk saling menyayangi. Tanpa ada permusuhan. Menyisihkan lebih banyak ruang di hati untuk “cinta”. Untuk generasi akan datang dan membuat dunia yang lebih baik.
8. Sunday Bloody Sunday – U2
    Lagu ini dirilis tahun 1983 dalam album War. Sunday Bloody Sunday terang-terangan mengkritik keadaan politik pada saat itu, yang menggambarkan kengerian yang terjadi di Irlandia Utara. Dimana pada saat itu terjadi insiden berdarah pada saat pasukan Inggris menembak para pengunjuk rasa dan warga sipil turut menjadi korban.


9. There You’ll Be – Faith Hill
    Lagu ini dinyanyikan oleh Faith Hill merupakan soundtrack film Pearl Harbour dan menjadi single yang hit ditahun 2001. Dalam video klip lagu tersebut menggambarkan suasana saat Jepang menyerang Pearl Harbour dalam Perang Dunia I.

Sumber: http://top10.web.id/hiburan/9-lagu-bertema-perdamaian-dan-perang

Persamaan dan Perbedaan Landasan Filosofis Menurut Ki Hajar Dewantara dan Jhon Dewey.

    Persamaan Landasan Filosofis menurut Ki Hadjar Dewantara dan Jhon Dewey
    Ki hadjar Dewantara dan Jhon Dewey dalam landasan filosofisnya tentang pendidikan sama-sama mengemukakan bahwa dalam pendidikan guru harus bisa menempatkan diri dalam perannya sebagai seorang pendidik. Harus mampu menjaga interaksinya tidak hanya antara pendidik dengan anak didik, melainkan antara pendidik (yang juga bagian dari masyarakat) dengan masyarakat sekitarnya.
    Terbukti seperti asas pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu Tut Wuri Handayani yang artinya mempunyai makna yang erat tentang peran dan fungsi guru yakni sebagai pendorong atau motivator, Ing Madya mangunkarsa yang artinya guru dapat menempatkan diri secara setara dengan murid dengan tidak berlaga menjadi seorang yang lebih, serta dapat menjadi seorang fasilitator (menciptakan peluang) bagi para muridnya, dan yang terakhir Ing Ngarsa Sung Tulada yang artinya guru berperan sebagai model atau memberi teladan kepada murid.
    Kemudian seiring dengan ungkapan yang dikemukakan oleh Jhon Dewey, bahwa guru harus dapat menempatkan diri dalam seluruh interaksinya dengan kebutuhan, kemampuan dan kegiatan siswa, serta dapat memilih bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan. Yang bertujuan agar manusia terdidik yang akan lahir dapat sesuai dengan yang diharapkan masyarakat kebanyakan, memiliki makna yang sama seperti yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara.

    Persamaan Landasan Psikologis menurut Ki Hadjar Dewantara dan Jhon Dewey
    Dalam landasan psikologisnya kedua pakar pendidikan ini sama-sama mengemukakan bahwa apabila siswa ingin berhasil dalam pendidikannya, siswa tersebut harus menjadi siswa yang aktif dan memiliki usaha yang kuat atau jelasnya siswa harus memiliki perilaku yang baik. Seperti yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan yang ‘baik’ itu dapat diartikan sebagai tingginya keterampilan vokasional yang dapat memberi penghasilan untuk meningkatkan mutu kehidupannya. Sementara yang dikemukakan oleh Jhon Dewey perkembangan atau kemajuan-kemajuan yang dialami anak sebagian besar terjadi karena usaha belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan, maupun pemecahan masalah.

     Perbedaan Landasan Filosofis menurut Ki Hadjar Dewantara dan Jhon Dewey   
    Yang membedakan pandangan keduanya tentang landasan filosofisnya adalah Ki Hadjar Dewantara terlalu berpandangan yang probabilistik atau fenomeonal terhadap pendidikan, salah satu contohnya beliau mengatakan bahwa pendidikan perlu didasari pada nilai-nilai kemerdekaan asasi. Padahal apabila dilihat kenyataannya, kemerdekaan asasi belum tentu dapat menjamin seseorang bisa mendapatkan suatu pendidikan yang baik.
    Sementara itu Jhon Dewey dengan pandangannya yang deterministik atau relisme memandang bahwa pendidikan yang baik itu didasari oleh kurikulum yang baik sebagai pondasi suatu pendidikan. Dewey memberi perumpamaan dengan sebuah bangunan yang apabila pondasinya tidak kuat, maka yang akan runtuh adalah bangunanya. Begitu pula dengan pendidikan, apabila kurikulumnya sudah salah diawal, maka yang akan ambruk adalah manusianya.
    Kesimpulan
    Bahwasannya landasan filosofis yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Jhon Dewey ini sama-sama menekankan pada pendidikan yang mempunyai dasar kurikulum yang kuat untuk menopang pendidikan yang baik yang diberikan kepada para anak didik, dan bagaimana cara untuk menjadi seorang pendidik yang baik dalam perannya. Agar bukan saja menjadi seseorang yang hanya mentransfer ilmu melainkan dapat menjadi seseorang yang dapat berguna bagi kehidupan orang banyak.
    Sementara itu landasan psikologis yang dikemukakan oleh kedua pakar ini lebih condong kepada bagaimana peran anak didik agar dapat menjadi orang yang lebih baik dengan perilaku baik yang mereka miliki, agar dapat menunjang perkembangan pendidikan yang akan mereka peroleh.

Job Analysis

Job Analysis

    Analisis pekerjaan merupakan proses yang sistematis dari menghimpun informasi dari tugas, kewajiban dan tanggung jawab dari pekerjaan tertentu.
Analisis pekerjaan menyediakan suatu ringkasan kewajiban dan tanggung jawab pekerjaan, hubungan dengan pekerjaan lain, pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan, dan kondisi kerja dibawahnya pekerjaan tersebut dilaksanakan.
    Kegunaan informasi analisis pekerjaan:
•    Untuk menetapkan basis rasional bagi struktur kompensasi.
•    Mengevaluasi bagaimana tantangan-tantangan lingkungan mempengaruhi pekerjaan individual.
•    Menghapuskan persyaratan kerja yang dapat menyebabkan diskriminasi personalia.
•    Untuk merencanakan kebutuhan-kebutuhan SDM diwaktu yang akan datang.
•    Memadukan lamaran-lamaran dan lowongan-lowongan pekerjaan.
•    Mengembangkan rencana-rencana pengembangan karyawan potensial.
•    Menempatkan para karyawan pada pekerjaan yang sesuai.
•    Membantu revisi struktur organisasi.
•    Memperkenalkan para karyawan dengan pekerjaan barunya.
•    Memperbaiki aliran kerja.
•    Memberikan data sebagai fungsi saluran komunikasi untuk menetapkan garis promosi dalam semua departemen dan organisasi.

    Yang melakukan job analisis adalah:
•    Pakarjob analysis
•    Job Analyserdariluar
•    Supervisor
•    Manager
•    Individuyang sungguhmemahamiorang-orang, pekerjaandankeseluruhansistemorganisasi.

    Aspek pekerjaan job analisis:
•    Keluaran pekerjaan (penyusunan staff, penetapan standar dan tujuan kerja, evaluasi nilai kerja).
•    Aktivitas yang dilaksanakan (tujuan perancangan kerja, struktur organisasi, persyatan kerja dan jalur karir, kebutuhan pelatuhan dan pengembangan, perencanaan tinjauan kerja).
•    Kompetensi (definisi persyaratan kerja untuk seleksi, penempatan, jalur karir, rencana desain organisasi, kebutuhan pelatihan).
•    Struktur balas jasa (administrasi gaji).

    Tahap-tahap analisis pekerjaan
•    Tahap persiapan analisis pekerjaan
Tahap ini meliputi 2 hal yaitu identifikasi pekerjaan dan penyusunan daftar pertanyaan. Tahap persiapan adalah pemutusan tentang informasi yang harus diperoleh agar hasilnya optimal.
•    Tahap pengumpulan data
Tahap pengumpulan data memerlukan 5 teknik yaitu
  1. Observasi : metode ini merupakan pendekatan melalui pengamatan visual secara langsung terhadap karyawan. Namun dirasa kurang baik karena lambat, mahal, dan kurang akurat. Pada dasarnya, metode ini paling baik apabila diterapkan pada pekerjaan sederhana.
  2. Wawancara : metode ini dirasa sangat efektif karena langsung bertatap muka dengan karyawan dan mempunyai kemampuan untuk membuktikan ketepatan informasi.  
  3. Kuisioner : metode ini memungkinkan banyak pekerjaan yang dapat dikerjakan karyawan dengan biaya yang relatif murah. Namun kurang akurat, karena salah mengartikan pertanyaan-pertanyaan.
  4. Logs : metode ini mirip dengan kuisioner. Dimana individu memegang posisi diminta untuk memberikan informasi. Namun kelemahannya, antara lain tidak menunjukkan data penting seperti kondisi kerja.
  5. Kombinasi : metode ini menggabungkan teknik observasi dan wawancara karena dapat memberikan informasi yang lengkap dan akurat.
•    Tahap penyempurnaan data
Dalam hal ini, analisis perlu memisahkan data yang berguna dan tidak berguna lalu mereview informasi yang telah terkumpul bersama personalia yang bersangkutan dengan pekerjaan.